DPRD Kalimantan Tengah

Legislator Dorong Kotim Mandiri Kelola Bauksit Melalui Smelter

Img 20260206 Wa0015

PROBORNEO – Kalangan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) mendorong transformasi sektor pertambangan dari pengiriman material mentah (raw material) menuju industrialisasi melalui pembangunan smelter bauksit di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

Upaya ini dipandang sebagai langkah krusial untuk memastikan Kalteng tidak hanya menjadi penonton dalam eksploitasi kekayaan alamnya, tetapi juga menjadi pusat pengolahan yang mandiri guna meningkatkan nilai tawar komoditas di pasar nasional maupun internasional.

Anggota Komisi II DPRD Kalteng, Sutik, menyatakan bahwa keberadaan smelter merupakan kunci utama untuk memperbaiki struktur harga di tingkat produsen daerah.

“Dengan smelter, saya mendukung sekali, biar harga bauksit bagus,” ucap Sutik di Palangka Raya, Selasa (3/2/2026).

Politisi Partai Gerindra ini menyayangkan jika potensi besar di Kabupaten Kotawaringin Timur terus-menerus dikirim ke luar provinsi untuk diolah.

Menurutnya, kualitas bauksit Kotim yang mumpuni seharusnya menjadi modal kuat untuk membangun industri pengolahan di tanah sendiri demi keuntungan ekonomi yang lebih maksimal.

“Bauksit di Kotawaringin Timur tergolong bagus, jadi daripada menjual bauksit ke daerah lain, lebih baik diolah di sini,” tegasnya.

Sutik memproyeksikan kehadiran smelter akan menjadi katalisator bagi ekosistem ekonomi baru di wilayah setempat.

Pembangunan fasilitas pemurnian ini tidak hanya soal deretan angka pendapatan daerah, namun juga tentang bagaimana geliat industri mampu menghidupkan sektor-sektor kecil di sekitar kawasan pertambangan.

“Dengan adanya smelter di Kotim, tentunya berdampak panjang terhadap ekonomi. Dampaknya baik dan menguntungkan, masyarakat juga bisa ikut merasakan karena apa-apa yang dijual laku,” jelas Sutik.

Menanggapi isu lingkungan yang sering kali menjadi polemik di industri ekstraktif, ia menekankan bahwa industrialisasi dan kelestarian alam dapat berjalan beriringan.

Syarat utamanya adalah penerapan teknologi hijau dan komitmen perusahaan terhadap standar operasional prosedur (SOP) lingkungan yang ketat.

Dukungan kuat dari pihak legislatif ini diharapkan mampu memberikan kepastian bagi para investor untuk menanamkan modalnya di Kalimantan Tengah.

Dengan terwujudnya hilirisasi ini, Kalteng optimis dapat mengakhiri era ketergantungan pada pengiriman bahan mentah dan bertransformasi menjadi kekuatan industri baru yang memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat lokal. (red)