Kalimantan Tengah

Gerdayak Dukung Wacana Soeharto Jadi Pahlawan, Minta Penilaian Secara Objektif

Img 20251109 Wa0014

 

PROBORNEO – Gerakan Pemuda Dayak (Gerdayak) Indonesia menyerukan agar penilaian terhadap Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, dilakukan secara objektif dan berimbang, tanpa dilandasi kepentingan politik.

Pernyataan ini disampaikan menyusul wacana pemberian gelar pahlawan nasional kepada sosok yang pernah memimpin Indonesia selama lebih dari tiga dekade tersebut.

Ketua Umum Gerdayak Indonesia, Yansen Binti, menegaskan bahwa dukungan pihaknya terhadap usulan tersebut semata-mata didasarkan pada penghargaan terhadap jasa besar Soeharto bagi bangsa dan negara.

“Kami mendukung Bapak Soeharto sebagai pahlawan nasional karena beliau sangat berjasa kepada Republik Indonesia, sejak masa revolusi kemerdekaan hingga masa pembangunan,” kata Yansen dalam keterangan resmi, Minggu (9/11/2025).

Menurut Yansen, rekam jejak perjuangan Soeharto tidak dapat dipisahkan dari sejarah bangsa Indonesia.

Saat muda, Soeharto turut berjuang dalam perang gerilya dan memiliki peran penting dalam Serangan Umum 1 Maret 1949, yang menjadi momentum strategis bagi pengakuan kedaulatan Indonesia di mata dunia.

Selain perjuangan fisik, Yansen juga menyoroti peran Soeharto dalam membangun pondasi ekonomi nasional.

“Selama menjabat sebagai presiden, Bapak Soeharto berhasil melaksanakan berbagai program pembangunan terencana melalui Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) yang mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” ujarnya.

Ia menyebut sejumlah keberhasilan yang patut dikenang, seperti swasembada beras di era 1980-an, keberhasilan program Keluarga Berencana (KB) yang menekan laju pertumbuhan penduduk, serta stabilitas ekonomi, politik, dan keamanan selama masa pemerintahannya.

Lebih lanjut, Yansen menilai bahwa penilaian terhadap tokoh bangsa seharusnya tidak didasarkan pada perbedaan politik, melainkan dilihat dari kontribusinya terhadap negara.

“Ketika kita menghargai jasa kepahlawanan seseorang, jangan dilihat dari perbedaan politik atau kepentingan apapun, kecuali kepentingan bangsa dan negara, terlepas dari kekurangan dan kekeliruan seseorang manusia, yang pasti semua manusia tak ada yang sempurna. Dan siapa yang merasa dirinya sempurna, silakan menolak,” tegasnya.

Yansen berharap, pemerintah dapat mempertimbangkan secara bijak berbagai pandangan masyarakat dalam menilai jasa Soeharto sebagai bagian dari perjalanan sejarah bangsa.

Gerdayak Indonesia, lanjutnya, menilai pengakuan terhadap jasa para tokoh bangsa merupakan langkah penting dalam memperkuat semangat persatuan dan menghargai perjuangan generasi terdahulu dalam membangun Indonesia. (red)