DPRD Kalimantan Tengah

DPRD Kalteng Kritik Pola Tambal Sulam Jalan, Minta Solusi Permanen

Whatsapp Image 2025 06 10 At 3.42.33 Pm

 

PROBORNEO – Wakil Ketua II DPRD Kalimantan Tengah (Kalteng), Muhammad Ansyari, menyoroti masih buruknya kondisi sejumlah ruas jalan di wilayahnya yang dinilai memicu kecelakaan dan korban jiwa.

Ia mendesak pemerintah daerah tidak lagi mengandalkan pola tambal-sulam dalam penanganan kerusakan jalan.

Hal itu disampaikan Ansyari usai mengikuti Rapat Paripurna ke-9 DPRD Kalteng, Selasa (10/6/2025). Ia menilai perbaikan jalan selama ini belum menyentuh akar persoalan.

“Kesannya memang ada keterlambatan. Tapi kita lihat respon Pak Gubernur itu cukup cepat. Beliau langsung turun ke lapangan setelah dari Kotawaringin Barat dan menyambangi langsung rumah korban. Itu bentuk empati yang layak diapresiasi,” kata Ansyari.

Namun, menurutnya, empati saja tidak cukup tanpa solusi permanen. Ia mengkritik pola pembangunan jalan yang terjebak dalam pemeliharaan jangka pendek tanpa perbaikan konstruksi berkelanjutan.

“Jangan setiap tahun jalan itu lagi, itu lagi. Sudah tahu rusak, dilapis lagi, tapi konstruksinya tidak berubah. Ini pemborosan anggaran dan tidak menyelesaikan akar masalah,” tegasnya.

Ansyari menyebut faktor utama cepatnya kerusakan jalan di Kalteng disebabkan pelanggaran tonase kendaraan dan lemahnya pengawasan. Banyak kendaraan dengan beban hingga 20 ton tetap melintasi jalan yang hanya dirancang untuk 8 ton.

“Kita perlu duduk bersama. DPR, dinas teknis, dan aparat penegak hukum harus menyatukan langkah. Kalau tidak, kita hanya buang anggaran untuk jalan yang umur teknisnya tidak pernah mencapai target,” ujarnya.

Ia menilai, persoalan jalan rusak sudah masuk kategori masalah sistemik yang terjadi hampir di seluruh wilayah Kalteng. Gubernur Agustiar Sabran, sebut Ansyari, telah memberikan instruksi kepada Dinas PU untuk segera bergerak cepat menangani kerusakan.

Namun, ia mengingatkan agar langkah cepat tersebut dibarengi perencanaan matang berbasis data kerusakan dan pola cuaca ekstrem.

“Kita tidak bisa lagi menyalahkan cuaca. Curah hujan tinggi memang ada, tapi kan ini bukan hal baru. Kalau tahu hujan ekstrem akan terjadi di akhir tahun, ya seharusnya desain teknis dan antisipasi kerusakan sudah dimasukkan ke dalam dokumen perencanaan,” jelasnya.

Ansyari juga mendorong dilakukan audit menyeluruh terhadap proyek jalan dalam lima tahun terakhir untuk memetakan penyebab kerusakan.

“Jangan disamakan perlakuannya,” tegasnya.

 

Ia mengapresiasi komitmen Gubernur Agustiar Sabran yang mulai mendorong pembangunan jalan berkelanjutan agar tak sekadar jadi proyek tambal-sulam.

“Komitmen Pak Agustiar sangat bagus. Kita di DPRD juga mendorong agar pembangunan jalan yang dilakukan pemerintah itu sekali bangun, bisa tahan lama. Ini soal efisiensi fiskal dan keselamatan pengguna jalan,” pungkasnya. (red)