Muara Teweh – Keberlanjutan konektivitas di Barito Utara menjadi bahasan utama dalam sosialisasi pengadaan tanah yang dipimpin oleh Asisten III Setda, H. Yaser Arapat. Sorotan utama tertuju pada Jembatan Hasan Basri yang sisa umur teknisnya diperkirakan hanya tinggal sembilan tahun lagi, sehingga diperlukan langkah cepat untuk pembangunan jembatan baru.
Dalam pertemuan tersebut, ditekankan bahwa pembangunan Jembatan Hasan Basri II harus berjalan beriringan dengan pelebaran jalan dalam kota. Penataan infrastruktur ini dirancang secara terpadu agar saat jembatan baru difungsikan, akses jalan pendukungnya sudah siap menampung beban kendaraan yang lebih besar.
Menurut Yaser, secara teknis jembatan lama tidak mungkin dibongkar sebelum jembatan pengganti berdiri. Oleh karena itu, persiapan lahan melalui pengadaan tanah harus dilakukan sejak awal tahun 2026 ini untuk menjamin kelancaran pembangunan fisik di masa mendatang.
Bupati Barito Utara, H. Shalahuddin, menginstruksikan agar pelebaran jalan juga segera dilaksanakan karena jalanan dalam kota sudah sangat padat. Hal ini merujuk pada fakta bahwa pelebaran terakhir dilakukan pada 20 tahun silam, sementara mobilitas penduduk terus berkembang pesat tanpa diimbangi fasilitas yang memadai.
Risiko jika proyek ini tidak dijalankan adalah menurunnya standar keselamatan jalan. Ruang gerak kendaraan yang semakin sempit meningkatkan potensi konflik lalu lintas. Oleh sebab itu, pengadaan tanah ini menjadi bagian dari strategi besar untuk menjaga agar Barito Utara tetap aman bagi para pengguna jalan.
Pemerintah juga membuka peluang untuk membangun jalan layang di titik-titik krusial yang memiliki kepadatan tinggi. Dengan dukungan penuh dari masyarakat dan dinas terkait seperti Perkimtan, diharapkan wajah baru infrastruktur Barito Utara dapat segera terwujud demi kenyamanan bersama.



