Kalimantan Tengah

SOCULRUN UPR Hadirkan Cara Baru Belajar Sosiologi Lewat Budaya Populer

Img 20251203 Wa0029

PROBORNEO–Di tengah semakin menguatnya budaya populer di kalangan generasi muda, mahasiswa Sosiologi FISIP Universitas Palangka Raya (UPR) menghadirkan pendekatan baru dalam belajar dan berinteraksi dengan masyarakat.

Melalui kegiatan SOCULRUN yaitu Sociology, Culture, and Running, mereka memadukan diskusi akademik dengan tren gaya hidup sehat, menjadikannya ruang interaksi sosial yang inklusif dan dekat dengan realitas masyarakat.

Kegiatan berlangsung selama dua hari, menghadirkan rangkaian workshop hingga fun run yang dirancang untuk mempertemukan budaya populer, literasi digital, dan relasi sosial antara civitas akademika dengan masyarakat luas.

Hari pertama, Jumat 14 November 2025, digelar workshop di Ballroom Gedung PPIIG UPR. Sejak pagi, ruangan dipenuhi antusiasme mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kota Palangka Raya.

Diskusi yang menghadirkan dua narasumber tersebut mengalir hidup, membahas dinamika budaya viral, tren fashion, literasi media, konstruksi identitas digital, hingga bagaimana budaya populer membentuk pola pikir generasi saat ini.

Proses interaksi lintas institusi menjadi nilai tambah, memperluas ruang bertukar perspektif antarmahasiswa. Bahkan, jumlah peserta melebihi target: dari rencana 50 orang, tercatat 70 peserta hadir dan bertahan aktif hingga sesi akhir.

Keesokan harinya, Sabtu 15 November 2025, suasana berubah menjadi lebih meriah ketika halaman FISIP UPR dipenuhi peserta fun run.

Tepat pukul 16.00 WIB, Sociology Running Festival dimulai, memperlihatkan bagaimana tren lari dapat menjadi ruang perjumpaan sosial. Peserta berasal dari latar beragam yaitu mahasiswa, ibu rumah tangga, anggota kepolisian, Bhayangkari, hingga atlet PON.

Keragaman tersebut membuat kegiatan ini lebih dari sekadar olahraga. Interaksi terjalin natural melalui obrolan sambil berlari, saling menyapa di stand UMKM, hingga aktivitas unggah foto menggunakan Instagram Frame.

Ruang publik ini menjadi laboratorium sosial yang menggambarkan bagaimana budaya populer menghubungkan berbagai kelas dan profesi.

Makna kegiatan SOCULRUN tidak berhenti pada keramaian acara. Workshop hari pertama membuka pemahaman peserta bahwa budaya populer bukanlah fenomena spontan, melainkan hasil industri budaya yang memengaruhi cara hidup masyarakat.

Sementara itu, fun run hari kedua menjadi pengalaman praktis bagaimana tren mampu membangun solidaritas, gaya hidup sehat, dan kedekatan sosial.

Ketua Panitia, Nora Juwita Limbong, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah bukti bahwa ilmu sosial bisa hadir dengan cara yang menyenangkan dan relevan.

“Melalui SOCULRUN, kami ingin menunjukkan bahwa akademik tidak selalu kaku, tetapi juga bisa diterapkan lewat kegiatan yang fun. Tergambar dari rangkaian acara kita yaitu Fun Run di hari kedua menjadi implementasi materi workshop hari pertama sekaligus bentuk nyata relasi mahasiswa Sosiologi dengan masyarakat. Kami juga menegaskan bahwa tren lari yang populer di berbagai kalangan, termasuk Gen Z, merupakan fenomena yang relevan dalam kajian akademis terutama pada jurusan sosiologi,” ungkapnya.

SOCULRUN menjadi gambaran bahwa pembelajaran sosiologi dapat turun langsung ke ruang publik, tidak hanya hidup di ruang kuliah dan jurnal ilmiah.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa, masyarakat, dan sivitas akademika merasakan pengalaman kolektif yang menyenangkan, reflektif, dan sarat nilai sosial mulai dari kolaborasi lintas kampus, peningkatan literasi budaya populer, hingga tumbuhnya kesadaran bahwa kesehatan fisik dan kesehatan sosial dapat berjalan bersama. (red)