Pemprov Kalteng

Pemprov Kalteng Tegaskan Kesiapsiagaan Hadapi Karhutla

img 20260414 wa0036

PROBORNEO – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Pemprov Kalteng) mulai memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Langkah ini diambil menyusul adanya proyeksi puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada Juli hingga September 2026.

Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Kalteng, Agustan Saining, mengungkapkan bahwa berdasarkan koordinasi lintas instansi, wilayah Kalteng perlu mewaspadai fenomena El Nino yang diprediksi akan memengaruhi intensitas kemarau tahun ini.

“Informasi dari berbagai instansi, termasuk Kementerian Lingkungan Hidup, BMKG, serta BNPB, menunjukkan bahwa periode tersebut berpotensi menjadi puncak musim kemarau yang dipengaruhi fenomena El Nino di wilayah Kalimantan Tengah,” ujar Agustan Saining usai mengikuti video konferensi bersama jajaran Polri di Palangka Raya, Selasa (14/4/2026).

Agustan menekankan bahwa kolaborasi antara pemerintah daerah, TNI, Polri, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci utama dalam meminimalkan risiko bencana asap.

Upaya pencegahan kini mulai dimaksimalkan, mulai dari pemetaan wilayah rawan hingga pengecekan sarana prasarana pemadaman.

“Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama dalam meminimalkan risiko karhutla. Upaya pencegahan akan terus dimaksimalkan, mulai dari pemantauan wilayah rawan hingga kesiapan personel dan sarana pendukung di lapangan,” tambahnya.

Ia menjelaskan bahwa ancaman El Nino bukan merupakan hal baru bagi Kalteng, mengingat siklus serupa pernah terjadi pada 2015, 2019, dan 2023. Namun, kondisi tahun ini dijadikan momentum untuk mempertajam latihan kesiapsiagaan personel di lapangan.

“Memang ada pola siklus, meskipun tidak selalu pasti. Karena itu, kita anggap kondisi saat ini sebagai bagian dari latihan kesiapsiagaan, mengingat potensi ke depan bisa lebih panjang durasinya,” lanjut Agustan.

Berdasarkan data BMKG, durasi kemarau ke depan bahkan berpotensi berlangsung lebih panjang, berkisar antara enam hingga delapan bulan. Meski demikian, Pemprov Kalteng tetap optimistis melalui sistem koordinasi dan posko siaga yang sudah berjalan hampir sepanjang tahun.

“Belajar dari pengalaman tahun sebelumnya, penanganan karhutla di Kalimantan Tengah dilakukan melalui kerja sama seluruh stakeholder, dengan status siaga yang berlangsung hampir sepanjang tahun. Selain itu juga kita sudah memiliki posko siaga dan sistem koordinasi yang berjalan. Intinya, bagaimana kita terus siap dan sigap dalam menghadapi potensi karhutla,” pungkasnya. (red)