Pemprov Kalteng

Momentum HUT 68 Kalteng, Gubernur Tegaskan Pembangunan Harus Merata Hingga Pedalaman

Fb Img 1747977137544

 

PROBORNEO – Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng), H. Agustiar Sabran, memimpin langsung upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-68 Provinsi Kalimantan Tengah yang berlangsung khidmat di halaman Kantor Gubernur, Jumat (23/5/2025).

Dalam pidatonya, Agustiar menegaskan komitmen pemerintah provinsi untuk memastikan pemerataan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat di seluruh pelosok, dari pedalaman hingga perkotaan.

“Kami selalu sampaikan dalam visi-misi kami, bahwa harga diri masyarakat Dayak khususnya dan masyarakat Kalteng secara umum harus kita angkat,” ucap Agustiar penuh semangat.

Ia menekankan bahwa pembangunan di Kalimantan Tengah harus terus bergerak maju dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia, demi mewujudkan Kalteng Berkah, Kalteng Maju, dan Kalteng Sejahtera menuju Indonesia Emas 2045.

“Jangan sampai ada anak-anak dari pedalaman sampai perkotaan yang tidak bisa sekolah. Di bawah kepemimpinan kami, semua anak Kalteng harus bisa sekolah, bahkan sampai kuliah,” tegasnya.

Selain pendidikan, Gubernur juga menaruh perhatian besar terhadap akses layanan kesehatan dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.

“Kami tidak ingin melihat anak-anak dari pedalaman hingga perkotaan yang tidak bisa berobat, tidak bisa makan. Itu tanggung jawab kita bersama,” tambahnya.

Sebagai solusi nyata, Pemprov Kalteng menyiapkan program prioritas Huma Betang yang akan mulai berjalan tahun 2026.

Program ini mencakup akses pendidikan, kesehatan, bantuan pangan, hingga pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat kurang mampu, khususnya di wilayah pedalaman.

“Dalam jangka pendek, kita hadir lewat program Huma Betang. Tapi jangka panjangnya, kita siapkan Balai Latihan Kerja. Kami tak ingin terus-menerus memberi, itu tidak mendidik. Kita akan siapkan pancingnya, agar masyarakat bisa mandiri,” jelasnya.

Sebagai Ketua Dewan Adat Dayak Kalteng, Agustiar juga menegaskan pentingnya menjaga jati diri masyarakat adat, namun tetap dalam bingkai persatuan bangsa.

“Masyarakat Dayak harus jadi tuan rumah di negeri sendiri. Tapi kita juga tidak boleh melupakan bahwa kita adalah bagian dari NKRI. Kita hidup dalam satu negara: Republik Indonesia,” pungkasnya. (red)