DPRD Barito Selatan

Batik Simbol Identitas dan Motor Penggerak Ekonomi Masyarakat Barsel

Ketua Gerakan Pemuda Dayak (Gerdayak) Kabupaten Barito Selatan (Barsel), Hermanes

PROBORNEO – Batik bukan sekadar kain bermotif. Batik adalah simbol identitas bangsa, pemersatu keberagaman budaya, sekaligus warisan berharga yang wajib dijaga keberlanjutannya.

Hal ini ditegaskan Ketua Gerakan Pemuda Dayak (Gerdayak) Kabupaten Barito Selatan (Barsel), Hermanes, yang juga merupakan Anggota DPRD Barsel dari Fraksi PDI Perjuangan, saat menyampaikan pandangannya dalam momentum Hari Batik Nasional, Rabu (15/10/2025).

Menurut Hermanes, masyarakat Barsel patut berbangga, sebab batik telah diakui sebagai Warisan Budaya Dunia Tak Benda oleh UNESCO sejak 2009—sebuah penanda bahwa batik memiliki nilai yang dihormati tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di panggung internasional.

“Ini bukan hanya kebanggaan nasional, tetapi juga pengingat bahwa batik adalah jati diri kita. Saat kita memakainya, kita sedang merawat identitas bangsa,” ujarnya.

Ia menekankan, budaya batik harus terus hidup dalam keseharian masyarakat, bukan hanya pada momentum seremonial.

“Batik adalah milik kita semua. Menjaganya sama artinya dengan menjaga persatuan dan warisan para leluhur,” tegasnya.

Tak berhenti pada konteks simbolik, Hermanes juga menyoroti daya ungkit ekonomi dari industri batik, terutama bagi pelaku UMKM dan pengrajin lokal di Barsel.

Ia mendorong adanya dukungan Pemerintah Daerah, mulai dari pelatihan peningkatan kualitas produksi, promosi yang lebih masif, hingga pembukaan akses pasar yang lebih luas.

“Banyak pengrajin batik di daerah yang punya talent dan motif khas lokal. Tugas kita memberi ruang agar mereka bisa naik kelas, bersaing, dan menjadi tuan rumah di daerah sendiri, bahkan merambah pasar global,” katanya.

Menurut dia, kreativitas desain modern perlu didorong tanpa menghilangkan ciri khas tradisi dan motif lokal Barsel. Inovasi dan adaptasi fashion dinilai menjadi kunci agar batik tetap relevan di tengah perkembangan industri mode.

Hermanes juga mengajak generasi muda untuk tampil sebagai pionir dalam budaya bangga berbatik.

“Jangan malu pakai batik. Pakai di sekolah, kantor, ruang pertemuan, bahkan saat nongkrong. Pemuda harus jadi trendsetter, bukan hanya penonton,” pungkasnya.

Di ujung pernyataannya, Hermanes menegaskan bahwa kolaborasi antara legislatif, eksekutif, pelaku UMKM, pemuda dan masyarakat luas adalah fondasi penting agar batik benar-benar menjadi simbol persatuan dan buffer ekonomi berkelanjutan di Barsel.

“Mari kita rawat batik, angkat potensinya, dan jadikan sebagai instrumen kebanggaan sekaligus motor penggerak ekonomi rakyat Barsel,” tutupnya.(red)