Kalimantan Tengah

Mahasiswa Sosiologi FISIP UPR Edukasi Anti-Bullying kepad Anak di Sekolah Rakyat Merdeka Kalteng

Img 20251125 Wa0064

PROBORNEO – Upaya menumbuhkan solidaritas dan ketahanan mental anak dilakukan melalui kegiatan edukatif bertema “Strategi Pemberdayaan Anak dalam Membangun Solidaritas, Karakter, dan Ketahanan Mental melalui Edukasi Anti-Bullying”.

Kegiatan ini digelar oleh tim penelitian dan pemberdayaan masyarakat dari Jurusan Sosiologi FISIP pada Minggu (12/10/2025) di bawah Jembatan Kahayan, Palangka Raya.

Kegiatan tersebut menyasar anak-anak peserta Sekolah Rakyat Merdeka Kalteng, sebuah sekolah alternatif yang berdiri sejak 24 Februari 2023. Sekolah ini menyediakan pembelajaran gratis bagi anak TK hingga SD melalui program lapakan belajar setiap akhir pekan.

Koordinator Sekolah Rakyat Merdeka Kalteng, Riru A Ngindra, menjelaskan bahwa sekolah rakyat dibangun dengan pendekatan kekeluargaan agar anak-anak merasa dekat dan nyaman dengan para pengajar.

“Bukan seperti sekolah formal pada umumnya, kita adalah sekolah alternatif yang di mana sekolah rakyat merdeka kalimantan ini berkegiatan setiap hari minggu di bawah jembatan Kahayan. Disini karena kita mengajarkan kepada adek-adek yang ada di sini bahwa mereka itu terbiasa memanggil kami sebagai pengurus sekolah rakyat dengan sebutan kakak, dengan seperti itu pula mereka jadi tidak canggung untuk menceritakan apa yang mereka kesulitan di sekolah,” katanya.

Ia mengungkapkan bahwa bentuk bullying yang paling sering dialami anak-anak adalah ejekan, terutama terkait kemampuan belajar.

“Pernah ada anak-anak juga bercerita pada kami, saya gak bisa sebut namanya tapi dia anak SD kelas 4, dia belum terlalu lancar membaca. Ibaratnya gak terlalu lancar, bisa itu bisa cuma gak lancar, gak seperti kita kalau membaca buku udah langsung kayak baca biasakan? Itu dia dibully oleh teman-teman sekelasnya. Dan pembullyannya dalam bentuk ejekan. Contohnya seperti ‘eh kok udah kelas 4 kok belum bisa sih?’” ujarnya.

Dengan metode learning by discussion, tim pemberdayaan dari FISIP UPR mengajak anak-anak membagikan pengalaman mengenai ejekan atau perundungan yang mereka hadapi.

Kegiatan berlangsung sambil menggambar, menulis, berhitung, dan bermain.

Beberapa anak mulai berani menceritakan pengalaman pribadi. Seorang anak menyampaikan bahwa ia dan kakaknya pernah diejek karena kondisi ekonomi keluarga.

 

Anak lain juga mengaku sering menjadi objek olokan teman-temannya.

Cerita-cerita tersebut menjadi gambaran nyata bahwa ejekan dapat menggerus rasa percaya diri anak, bahkan membuat mereka enggan hadir di sekolah rakyat.

Di akhir kegiatan, tim penelitian dan pemberdayaan masyarakat membagikan bingkisan camilan kepada 23 anak sebagai bentuk apresiasi. Selain meningkatkan pemahaman tentang anti-bullying, kegiatan ini juga mempererat kedekatan antara mahasiswa, relawan, dan anak-anak.

Kegiatan ini diharapkan mampu mendorong kepedulian masyarakat terhadap isu perundungan dan pentingnya menciptakan lingkungan tumbuh kembang yang aman dan suportif bagi anak. (red)